Anak Juga Perlu Dimengerti

Baby & Kids - 10 Apr 2018

Perasaan tak dimengerti oleh orangtua sering dialami anak. Padahal, penting bagi orangtua untuk membuat anak merasa dimengerti karena ada hubungan langsung antara perasaan dan perilaku anak. Salah satu kunci mendapatkannya adalah berkomunikasi positif sebagai landasan untuk menyampaikan ajaran berguna pada anak.

 

Kunci komunikasi yang membuat anak merasa dimengerti adalah menerima perasaan anak 100%. Maksudnya, bila anak menyampaikan sesuatu yang negatif, orangtua sebaiknya tak membantah apa yang disampaikan anak. Karena selain membuat anak merasa tak dimengerti, hal ini membuat anak enggan mengomunikasikan perasaan yang sesungguhnya. Contohnya, bila anak yang baru mendapat adik berkata, “Aku enggak suka sama dede”, respon orangtua umumnya membantah, dengan berkata:Enggak boleh begitu. Kamu mestinya sayang sama dede. Mama atau papa enggak mau dengar kamu ngomong begitu lagi”. Respon itu akan membuat anak merasa diacuhkan dan akan berpikir ulang untuk menyampaikan perasaannya di kemudian hari kepada orangtua.

 

Cara Merespon Anak Secara Positif

Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orangtua untuk merespon anak secara positif, yakni:

 

-       Dengarkan saat anak menyampaikan sesuatu, terutama bila itu berkaitan dengan perasaannya. Katakan, “Oh, begitu...” atau “Terus gimana?” Jadi anak tahu bahwa orangtua mendengarkannya. Jangan sambil nonton TV atau membaca koran. Anak akan langsung merasa orangtuanya tak serius mendengarkannya. Bila terus terjadi, mereka akan malas bercerita karena merasa percuma.

 

-       Hindari menasihati sebelum anak selesai bercerita, kecuali bila ia yang meminta. Biasanya orangtua cenderung ingin membereskan hal secepat mungkin. Tahan keinginan itu, terutama di awal-awal cerita, karena itu membuat anak merasa diacuhkan. Hindari juga membantah perasaan anak. Misalnya, bila ia kehilangan mainan, hindari berkata:Sudah, tak usah nangis, nanti mama beliin yang baru”. Akan lebih baik bila merespon, “Wah, padahal kamu suka sekali ya sama mainan itu”. Ketika anak bercerita, kebutuhan terbesarnya adalah didengarkan dan dimengerti, bukan dibantah.

 

-       Hindari bertanya “mengapa”. Karena seringkali anak tak tahu apa yang diresahkannya. Jadi pertanyaan “mengapa” hanya akan menambah masalah, bukan menolongnya. Hindari juga mengecilkan masalah atau perasaan anak, misalnya dengan bekata “Kamu berantem gara-gara itu?”Ini membuat anak merasa disepelekan.

 

-       Bantu anak mengidentifikasi apa yang dirasakannya. Selain membuat anak merasa orangtuanya mengerti yang ia rasakan, hal itu akan menolong anak mengenali perasaannya sehingga ia bisa bercerita lebih spesifik di kemudian hari. Salah satu cara terefektif, ajarkan anak bagaimana mendeskripsikan emosi yang belum dikenalnya, seperti: frustasi, khawatir, kecewa, dan sebagainya.

 

Tapi perlu digarisbawahi, yang terpenting adalah sikap orangtua. Karena bila tak menunjukkan perhatian, maka apapun yang dikatakan orangtua, termasuk respon positif sekalipun, tak akan membuat anak merasa didengarkan, apalagi dimengerti. Anak akan merasa orangtua hanya “lip servicealias tidak tulus dalam mendengarkan mereka. Selamat berlatih! ES


foto: understandingrelationships.com