Kekerasan Verbal Bisa Pengaruhi Kecerdasan Anak

Baby & Kids - 13 Sep 2018

Tak jarang orangtua kerap melakukan kekerasan verbal terhadap anaknya, dengan menyematkan sebutan yang kurang enak didengar, misalnya Si Hitam, Si Jelek, Si Gendut atau Si Pendek. Memberikan label ke anak, meskipun itu sesuai dengan kondisi fisik, bisa dibilang masuk dalam ranah kekerasan verbal, demikian dikatakan psikolog klinis Kasandra Putranto.

 "Tak jarang orangtua kerap melakukan hal ini kepada anak-anak. Menyebut mereka dengan label tertentu. Padahal ini termasuk jenis verbal bullying yang kerap tak disadari," ujar Kasandra di sela-sela temu media #AnakCerdasItu yang dihelat Cerebrofort di Tangerang, baru-baru ini. Kasandra menambahkan, perundungan memang tak bisa dihindari, namun juga tak bisa dimaklumi. 

'"Jangan pernah maklum dengan bullying, apalagi pasrah. Perundungan harus berhenti karena dampaknya negatif untuk anak," bebernya. Jika anak telanjur mengalami kekerasan verbal, hal pertama yang harus dilakukan adalah perundungan harus selekasnya dihentikan. "Tambahkan stimulasi untuk memulihkan rasa percaya diri anak. Selalu lakukan pendampingan, juga perbaiki cara pandangnya. Jangan sampai orangtua malah meremehkan anak yang mendapat perundungan dengan mengatakan...ah kamu cuma digituin aja cengeng. Itu bahaya. Itu sama dengan pembiaran yang membahayakan psikologis anak," Kasandra mengingatkan. 

Kasandra menambahkan, banyak orangtua yang tak menaydari telah membuat anak-anaknya mengalami  apa yang disebut sebagai childhood emotional neglect (CEN), sebuah kondisi kegagalan orangtua dalam menanggapi kebutuhan anak yang sepantasnya mereka terima. "Anak-anak itu memiliki emosi juga. Bisa sedih, lalu marah. Jika kondisi ini diabaikan, bisa berbahaya karena berdampak di kemudian hari." Psikolog klinis ini menjelaskan, kekerasan verbal bisa berpengaruh pada kinerja otak anak. 

Pasalnya, kekerasan verbal menghambat produksi mielin (mielinisasi). Yang termasuk dalam kategori kekerasan verbal termasuk memarahi anak. Mielinisasi merupakan proses pelapisan lemak pada ujung saraf dimana hal ini mempengaruhi penyampaian pesan dari saraf ke otak. Proses ini berlangsung sejak anak dalam kandungan hingga lahir. "Anak yang sering dimarahi dan kerap mendapat kekerasan verbal baik sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, mielinnya lebih sedikit. Riset menunjukkan ketika mielin berkurang maka proses penyampaian pesan dari saraf ke otak terjadi lebih lambat, anak jadi sulit menyerap pelajaran," beber Kasandra. 

Agar mielinisasi berjalan lagi, maka anak harus dikoreksi emosinya. "Jika orangtua salah, jangan ragu minta maaf. Dengarkan apa yang menjadi kebutuhan anak. Alihkan perhatian anak ke aktivitas yang membuatnya lebih percaya diri," saran Kasandra. Membiarkan anak tumbuh di lingkungan yang kerap memberi kekerasan verbal tanpa upaya menghentikannya, maka anak akan mengalami kesulitan dalam berpikir dan bersosialisasi di usia sekolah. "Harus ada intervensi agar kondisi psikologis anak tidak memburuk. Intervensi ini berbeda pada setiap anak. Psikolog bisa menganalisis dan menyarankan terapi yang sesuai," pungkasnya. 

Intervensi Nutrisi Dalam kesempatan yang sama Medical Officer Kalbe Farma Claudia Anggi menambahkan, selain intervensi dari proses psikologis, proses pembentukan myelin juga bisa ditunjang dengan pemberian makanan yang mengandung asam lemak omega-3 dan 6. Aam lemak omega-3 dan 6 merupakan bahan struktural sel saraf. Sejak lama diketahui bahwa asam lemak ssensial mempunyai peran penting dalam peningkatan tingkat kecerdasan anak. Bersama kolesterol, asam lemak esensial membentuk 75 persen pembungkus urat saraf dalam otak yang mempercepat penghantaran impuls saraf. Secara kimia, otak manusia merupakan organ yang banyak mengandung suatu lapisan tipis (membran) lemak. 

Agar membran berfungsi dengan tepat diperlukan asam lemak omega-3 dan omega-6. Asam lemak omega-3 dan omega-6 terdapat pada Air Susu Ibu (ASI), telur , kedelai, ikan dan produk olahannya termasuk minyak ikan. Asam lemak omega-3 dan 6 merupakan jenis asam esensial, yang berarti tubuh tidak dapat membuatnya sendiri, sehingga perlu diperoleh melalui makanan atau suplemen. "Sumber makanan yang kaya asam lemak omega 3 dan 6 adalah ikan yang hidup di air dingin," ujar Anggi.

sumber: dokterdigital.com

foto: kaplanco.com