Pewarna Makanan Bikin Anak Hiperaktif Mitos atau Fakta?

Baby & Kids - 07 Dec 2017

Pewarna makanan selalu menjadi topik menarik, terutama jika dikaitkan dengan tumbuh kembang anak-anak. Selama lebih dari 30 tahun, para ilmuwan telah meneliti hubungan antara pewarnaan makanan dan perilaku hiperaktif pada anak-anak, namun dengan hasil yang beragam. Sampai saat ini, tidak ada bukti konklusif ditemukan bahwa pewarna makanan menyebabkan ADHD. 

Meski demikian, sejumlah studi telah menekankan adanya hubungan antara keduanya. Kemungkinan besar, ADHD disebabkan oleh kombinasi perubahan struktur otak, faktor lingkungan, dan faktor keturunan. Bisakah pewarna makanan menyebabkan hiperaktif? 

Sebuah studi oleh Badan Standar Makanan Kerajaan Inggris pada tahun 2007 menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang mengandung pewarna dapat meningkatkan perilaku hiperaktif pada anak-anak. Dalam studi yang melibatkan anak-anak berusia 3, 8 dan 9 tahun, anak-anak diberi tiga jenis minuman yang berbeda untuk diminum. Kemudian perilaku mereka dievaluasi oleh guru dan orang tua. Salah satu minuman campuran mengandung pewarna makanan buatan, termasuk: Sunset yellow (E110), Carmoisine (E122), Tartrazine (E102), dan Ponceau 4R (E124) Minuman itu juga mengandung sodium benzoat pengawet. Campuran minuman kedua melibatkan zat pewarna antara lain Quinoline yellow (E104), Allura red (E129), Sunset yellow, dan Carmoisine. Munuman tersebut juga mengandung natrium benzoat.

 Campuran minuman ketiga adalah plasebo dan tidak mengandung bahan aditif. Para peneliti menemukan bahwa perilaku hiperaktif pada anak usia 8 dan 9 tahun meningkat dengan campuran yang mengandung bahan aditif pewarna buatan. Perilaku hiperaktif anak usia 3 tahun meningkat dengan minuman pertama namun tidak dengan yang kedua. 

Peneliti menyimpulkan, hasil riset menunjukkan efek buruk pada perilaku setelah mengonsumsi pewarna makanan. Apa itu pewarna makanan? Pewarna makanan terdiri dari bahan kimia yang digunakan untuk menambah warna makanan. Pewarna makanan sering ditambahkan pada makanan olahan, minuman, dan bumbu. Fungsinya adalah mempertahankan atau memperbaiki penampilan makanan.

 Produsen biasanya menambahkan pewarna untuk alasan berikut: 

1. Menambah warna pada makanan tak berwarna 

2. Meningkatkan warna 

3. Menghindari kehilangan warna akibat unsur lingkungan 

4. Untuk memberikan konsistensi bila ada variasi dalam pewarnaan makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatur bahan warna aditif untuk memastikan keamanannya bila dikonsumsi manusia. 


Regulasi juga membantu memastikan bahwa makanan dengan pewarnaan diberi label secara akurat sehingga konsumen tahu apa yang mereka makan. Untuk menentukan persetujuan terhadap bahan aditif, FDA mempelajari komposisi dan berapa banyak yang dikonsumsi dan mencatat efek kesehatan dan faktor keamanan yang perlu diamati. Setelah pewarna makanan disetujui, FDA menentukan tingkat penggunaan yang sesuai untuk aditif itu. FDA hanya mengizinkan aditif untuk disetujui jika ada kepastian yang wajar tidak membahayakan konsumen. Di Indonesia, soal pewarna pangan ini juga telah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

sumber: dokterdigital.com

foto: huffpost.com