Katakan Tidak Pada Kekerasan

Fatherhood - 07 Aug 2018

Gampang-gampang susah memang mendidik anak, apalagi punya anak yang mempunyai sifat egois dan harus selalu dituruti segala keinginannya. Bisa-bisa kesabaran kita sebagai orangtua habis, dan justru menggunakan kekerasan sebagai jalan pintas. 

Bukan hal yang mudah memang mendidik anak agar mau disiplin dan mematuhi berbagai peraturan yang ada. Memang kalau kita melihat ke belakang, metode kekerasan kerap kali digunakan orangtua atau pendidik zaman dahulu untuk mendisiplin anak. Contohnya saja, bila anak tidak membuat PR, bisa-bisa anak akan dijewer, dijemur di terik matahari, atau bahkan dipukul dengan penggaris kayu oleh guru. Hal ini memang membuat anak jera, namun secara psikologis justru membentuk perilaku buruk dalam diri anak.  

Dampak Buruk

Bentakan pada anak akan mengakibatkan hal yang fatal. Bila anak sering dibentak atau dimarahi secara brutal, anak berisiko mengalami pertumbuhan mental yang buruk, dan bahkan kesulitan melakukan inisiatif, karena takut dianggap salah. Anak akan ketakutan secara berlebihan pada orangtua, walaupun hanya mendengar langkah kaki. Efek jangka panjangnya, mereka akan sering murung, melamun, dan juga lambat dalam memahami sesuatu. Biasanya anak yang sering dibentak akan mudah meluapkan rasa marah, panik, sedih, stress dan bahkan depresi.  

Kekerasan yang kerap dilakukan orang dewasa ke anak malah bisa membuat anak mengalami trauma, dan suatu ketika mereka cenderung akan melawan karena merasa terdesak. Di sisi lain si anak yang sering menerima bentakan atau hukuman secara fisik akan cenderung meniru membentak atau bahkan mem-bully teman-temannya. Dengan cara kekerasan (kalaupun berhasil mendisiplinkan anak) itu bukan dari kesadaran si anak, namun lebih banyak karena ketakutan. Memang, anak akan bersedia belajar, pulang sekolah tepat waktu, mengerjakan semua tugas dan kewajibannya, namun mereka tidak menyadari apa manfaat disiplin. Mereka hanya takut kalau orangtua atau guru marah. Beberapa orang mungkin beranggapan hal ini sederhana, namun kenyataannya, ada banyak situasi sulit yang memerlukan pendekatan khusus pada anak. Hal ini tidak boleh dianggap remeh karena akan berpengaruh pada tumbuh kembang karakter anak ini kelak. 

 

Saat terjadi masalah pada anak, usahakan orangtua mau mendengar dulu apa alasan anak melakukan hal tersebut. Jangan langsung menghakimi anak atas perbuatannya, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Berikan kesempatan anak untuk menjelaskan situasinya, sebelum kita memberi wejangan pada anak. Hal ini untuk melatih anak memahami arti tanggung jawab, dan menyadari bila perilaku mereka salah. Bicaralah dan nasehati secara tegas secara berulang, tapi jangan sekali-kali mengancam atau menggunakan kekerasan. 

Tetapkan Aturan

Selagi kecil anak memang harus menerima banyak didikan yang baik. Akan lebih baik lagi kalau kita sebagai orangtua membuat dan memberlakukan peraturan yang jelas pada setiap anak. Dengan demikian anak akan belajar disiplin. Misalnya saja anak harus bangun pagi jam 5 pagi untuk siap-siap berangkat sekolah. Atau mandi 2 kali sehari, makan harus selalu bersama-sama di meja makan, pulang sekolah tidak asal melempar seragam sembarangan di kasur, atau diminta sekadar membantu ibu membersihkan rumah. Setelah peraturan dibuat, upayakan agar kita selalu konsisten melaksanakannya. Bila melanggar, anak dihukum, namun bila mematuhi, tidak ada salahnya kita memberinya hadiah.   

Cara Menghukum 

Setiap kesalahan harus ada konsekuensinya, dan pelanggaran tidak boleh didiamkan saja. Pastikan kita berhasil memberikan pemahaman yang baik pada anak. Jika mereka didapati melanggar, segera beritahu anak akan kesalahannnya. Namun yang perlu diingat, jangan memberi hukuman yang dapat berdampak negatif. Seperti bila anak malas belajar, kita menghukumnya dengan menyuruh anak belajar, tapi anak dikunci di kamar. Atau kita berada di sebelahnya dengan ancaman penggaris atau sandal -- walaupun kita tidak memukulnya sama sekali. Lakukan ini secara sabar dan berulang-ulang, meski melelahkan, karena anak akan mengerti bukan dari ancaman, melainkan mereka sadar kalau belajar itu penting.

Jangan Terlibat Konflik

Sebagai orangtua, kita harus dapat mengontrol emosi kita, kerena tentunya kecerdasan emosi kita jauh lebih baik dari anak kita. Tetapi tidak sedikit orangtua yang malah terpancing emosinya bila menghadapi anak yang tidak menurut, bahkan langsung menggunakan kekerasan. Sebaiknya, saat melihat anak tidak terkendali, beri waktu anak untuk menyendiri, atau ajak anak berbicara empat mata, secara baik-baik. Kata-kata mendidik dan lembutlah yang harus keluar dari mulut orangtua, bukan kata-kata makian atau kasar. Bila anak berbicara kasar pada orang lain, berteriak-teriak, atau tidak mau diatur, datanglah pada anak, katakan lembut pada mereka, bahwa yang mereka lakukan itu salah. Intinya, kita bisa melakukan itu semua dengan rasa kasih sayang, bukan membenci. Selamat mencoba, ya! 


Efektif Mendisiplinkan Anak

1.Tunjukan kasih sayang. Sebagai orangtua, bersikaplah lembut dan memberi kasih sayang yang selayaknya pada anak. Selain itu berikan pelukan dan ciuman, agar anak merasa aman dan nyaman. 

2. Jadilah pendengar yang baik. Bila anak membantah, jadilah pendengar yang baik. Cari tahu alasan anak melakukan hal tersebut. Jangan hakimi dia, bila salah, beritahulah dengan benar. 

3. Jadi panutan. Bila memberi larangan pada anak, haruslah kita bisa menjadi contoh. Contoh, bila melarang anak jangan bermaingadget terlalu lama, kita sebagai orangtua harus memberi contoh tidak bermain gadget lama. 

4. Menyadari kesalahan. Bila orangtua berbuat salah pada anak, minta maaflah pada anak. Kita harus memberi contoh pada anak, agar anak juga bisa cepat menyadari kalau mereka salah.

5. Tidak mengancam. Agar menurut, biasanya orangtua menakut-nakuti anak. Contohnya saja bila tidak mau tidur siang, nanti matanya bengkak sebelah, atau mengancam anak, bila tidak mau belajar akan dipukul dengan kayu. Ini adalah hal keliru, karena hanya membuat anak ketakutan dan trauma. (DL)

 foto: howcast youtube channel