Ketika Ayah Kalah Pamor dari Ibu

Fatherhood - 10 Oct 2017

Bukan alasan bagi ayah untuk terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ayah tidak merasa dibutuhkan oleh keluaraga, terutama anak-anak di rumah. Karena kurangnya peran ayah dari ibu di rumah, terkadang membuat anak-anak kehilangan figur ayah yang baik. Apalagi anak-anak selalu lengket dengan ibunya. 

Ibarat perlombaan, ayah seringkali ‘kalah’, karena peran ibu lebih dominan dalam rumah tangga, sehingga anak-anak lebih percaya dengan ibu daripada ayah. Yang semakin disayangkan adalah, tidak sedikit para ayah yang justru menganggap sepele hal ini. Bila anak-anak nakal atau prestasi di sekolah menurun, barulah sang ayah ‘turun gunung’ menghadapi ini dan cenderung menyalahkan ibu karena tidak baik mendidik anak.

Sebenarnya keluarga yang baik itu datang dari seorang ayah yang mempunyai sikap untuk selalu membimbing keluarga serta memberi contoh yang baik kepada anak dan istrinya. Namun karena kesibukan, ayah seakan kalah pamor dari ibu yang selalu memperhatikan kebutuhan seluruh keluarga: dari memasak, mengurus anak, merawat, menjadi guru les dadakan, mencuci pakaian, pengatur keuangan, motivator, dan menjadi manager dalam rumah tangga. 

Peran Ideal

Idealnya, tugas ayah memang mencari nafkah dan ibu mengerjakan perkerjaan rumah serta mengurus anak-anak. Bila ayah menjadi tak perhatian pada anak, akibatnya ikatan hubungan antara ayah dengan anak-anaknya akan jauh berkurang. Walaupun ada asisten rumah tangga, apa salahnya anak juga mendapat sentuhan dari ayah. Misalnya dengan menanyakan bagaimana keadaan di sekolah, atau sekedar membantu mengerjakan PR. Kalaupun tidak seterampil ibu, ayah juga bisa berperan lewat berbagai interaksi yang dilakukan dengan anak. Misalnya dengan mengajak anak bermain bersama, mendongeng, atau aktivitas lainnya yang bermanfaat.

Ingatlah anak-anak dalam masa perkembangan butuh kasih sayang bukan hanya dari ibu. Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa anak-anak yang mendapatkan sentuhan dan didikan ayah selama proses tumbuh kembang, ternyata memilik kemampuan sosial dan prestasi akademis yang lebih baik, dibanding hanya mengandalkan sentuhan ibu. Keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan akan berdampak baik bagi perkembangan anak dan membuat anak lebih percaya diri. Ayah juga boleh memuji, memberi pelukan, semagat dan memotivasi anak. Di lain sisi, bila anak salah, ayah harus menegur, memberitahu mana yang benar dan yang salah, serta menjadi contoh. Misalnya saja kalau anak dilarang bermain gadget terlalu lama, orangtua juga harus membatasi diri bermain gadget, agar tidak menjadi teladan buruk.  

Memahami Kondisi

Apa yang menjadi alasan selama ini sehingga ayah kalah pamor dari ibu? Ayah pulang kerja merasa sudah lelah, sedangkan ibu juga dipusingkan dengan pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung selesai. Apalagi kalau melihat anak rewel meminta sesuatu. Biasanya, dalam keadaan seperti ini suami dan istri menjadi sangat sensitif.

Ada kalanya kita sebagai ayah sangat lelah, karena sudah seharian bekerja dan sampai di rumah ingin dilayani. Sesampai di rumah kadang hari sudah larut, dan kita tidak sempat bertemu dengan anak yang sudah tidur. Bila kita menyadari peran kita, maka kita perlu mengatur jadwal agar minimal tidak setiap hari kita pulang larut. Pun bila bekerja di luar kota atau di luar negeri, tidak sulit seharusnya di era digital ini, untuk ayah menyiapkan waktu menelepon atau melakukan video call.

Kesibukan pekerjaan memang ada saja yang perlu dimaklumi. Tetapi bila sampai tidak ada waktu untuk anak sama sekali, sebenarnya kita perlu mempertanyakan fungsi dan tanggung jawab kita pada keluarga, terutama pada anak. Dan tidak boleh ada alasan untuk kita para ayah merasa enggan diganggu oleh keadaan rumah. Kita tidak boleh egois: meski kesannya biasa saja di rumah, bagaimanapun istri telah melakukan ‘pekerjaannya’ mengurus rumah sepanjang hari.


Dengan Kasih Sayang

Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh para ayah adalah kecenderungannya untuk galak menghadapi anak-anak yang nakal. Galak maupun bentuk ketegasan lainnya memang terkadang diperlukan untuk memberi arahan pada anak, tapi tentunya dengan batasan-batasan. Usahakanlah untuk tidak memukul, atau melakukan kekerasan fisik lainnya, tapi dengan cara menegur dan memberi pengertian pada anak. Hal ini perlu dilakukan agar anak memahami, dan menjadi jera, lalu tidak mengulangi perbuatan salah atau buruk. Bila ‘kekerasan diperlukan’, jangan langsung menggunakannya. Karena bila sikap ayah semakin keras, anak bukannya mengerti, tapi malah merasa terancam dan cenderung melawan. Anak yang dididik secara kasar biasanya akan bertindak kasar juga kepada orang lain bila mereka sedang sedang di luar rumah (mem-bully teman). Jadi didiklah anak dengan kasih sayang. Bila kurang memahami anak, diskusikan hal ini dengan istri, untuk menemukan cara yang terbaik. 

Saling Melengkapi

Selain dapat meringankan tugas istri, kedekatan ayah dengan anak-anak juga membuat hubungan suami istri harmonis. Dalam hal ini, istri merasa dipahami dan terbantu. Selain itu dalam rumah tangga seharusnya berlaku adanya saling pengertian. Jika salah satu pasangan mengalami ‘ketidakmampuan’, maka pasangannya bisa mengambil alih tugas. Jadi para ayah, mulai sekarang rebut kembali tanggung jawab kita, dan jadikan istri sebagai ‘rekan kerja’ bukan sebagai saingan untuk menggapai segala cita-cita keluarga.  

Agar Pamor Ayah Tidak Pudar :

1. Luangkan waktu dengan anak, walaupun hanya 10 menit. Misalnya dengan main lempar tangkap bola, nonton acara tv kesukaan mereka. 

2. Saat libur, ayah bisa mengajak anak untuk jalan-jalan, bermain atau mengajak anak mencuci mobil.  

3. Berkomunikasi secara intensif. Misalnya menanyakan secara rutin pengalaman hari ini di sekolah, atau bila anak ada masalah ayah bisa memberikan tanggapan yang tidak menjatuhkan. 

4. Berikan waktu ‘me time” ibu ke salon atau sekedar bertemu dengan ibu-ibu lainnya. Gantikan sementara tugas menjaga anak, dan biarkan ibu sejenak bersenang-senang. 

5. Ajakalah anak bertemu dengan teman atau kerabat. Hal ini mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan bisa percaya diri bila berinteraksi dengan orang lain. (DL)

foto: steinhardt.nyu.edu