Menjauhkan Anak Dari Perilaku Bully

Fatherhood - 06 Mar 2018

Mengerikan sekali rasanya bila fenomena bully sudah merasuk pada anak-anak dan tentunya akan berpengaruh besar terhadap masa depan mereka. Tak dapat dipungkiri, pengaruh lingkungan dan didikan keluarga yang juga berperan penuh terhadap kejadian bully ini. 

Di pertengahan tahun 2017 lalu terjadi kasus bully terhadap anak SD yang dilakukan siswa SMP di daerah Thamrin City, Jakarta. Sebenarnya kasusnya hanya cekcok mulut semata, namun ternyata di hari berikutnya, si korban dihadang serta dibawa ke Thamrin City untuk di bully. Selain itu, di awal tahun 2016 lalu juga terjadi kasus bullying terhadap anak TK di Lampung. Kejadiannya, seorang anak perempuan diambil bekal sekolah, uang jajannya dan setelah itu didorong oleh teman laki-lakinya. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 23.858 kasus kekerasan anak termasuk bully (korban dan pelaku)  terjadi di sepanjang tahun 2012 sampai 2016  di seluruh Indonesia. “Kasus bullying sudah terjadi dimana-mana, di seluruh Indonesia, di sekolah pasti banyak terjadi dan itu tanggung-jawab kita semua memperhatikan ini,” jelas Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saat diwawancarai di kantornya.

Pengertian Bully

Bila mendengar kata bully, kita sebagai orangtua tentunya cemas, bagaimana jika anak kita di bully atau bahkan membully temannya. Kasus-kasus ini pun ramai dibicarakan di berbagai media. Mungkinkah anak kita terkena bully, atau mungkin menjadi pelakunya? Sebenarnya apa sih definisi bullying? Bully pada anak adalah perilaku untuk menakuti-nakuti atau membahayakan orang lain. Pelakunya biasanya anak-anak atau remaja yang memilih anak lain yang dianggap lemah, mengganggunya dan terus mengulanginya setiap ada kesempatan. Jadi bila Si Kecil mengadu kalau ia diejek temannya atau dihasut teman-temannya untuk tidak berteman dengan anak kita, mungkin anak kita sedang di bully. Namun pada sebagian anak, bila dibully ada yang cenderung diam dan mencoba mencoba menyimpannya sendiri. Bila ada hal yang mencurigakan pada anak kita, tiba-tiba jadi tidak ceria, atau menjadi pemurung, sebaiknya tanyakan pada mereka, apakah mereka sedang di bully oleh teman-temannya.

 

Dampak Bully

Semakin berkembangnya waktu, perilaku bullying semakin meluas dan dampaknya pun semakin parah. Bully bahkan dapat memakan korban jiwa dan kalau pun tidak, korban bully akan menjadi depresi, kurang percaya diri, tidak bersemangat untuk sekolah dan prestasinya menurun. Sebagai orangtua, kita pasti bertanya-tanya, anak sekecil ini kok bisa ya mem-bully, padahal mereka dari keluarga baik-baik. Ada banyak faktor yang membuat anak melakukan perilaku ini. Bisa jadi dipengaruhi oleh kurangnya perhatian orangtua, atau didikan orangtua yang sangat keras, seperti menghukum dengan hukuman fisik jika si anak bersalah. Selain keluarga, televisi, internet dan gadget juga berpengaruh. Hal ini dilakukan anak, karena mendapat input yang kurang baik dari sinetron-sinetron yang tidak sesuai dengan usia mereka, bermain internet dan video game yang mengandung pelecehan serta kekerasan.

 

Mengawasi Anak

Melihat kejadian-kejadian yang mengerikan tadi, ada baiknya sejak dini kita mengawasi dan membentuk perilaku anak agar terjauh dari perilaku bullying. Hal ini dimulai dengan menanamkan sifat positif pada anak dan sebisa mungkin bila anak bersalah jangan dihukum secara fisik. Beri contoh pada anak dengan tidak mengeluarkan kata-kata kasar, atau orangtua tidak bertengkar di depan anak, apalagi melakukan tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Selain itu, kita juga harus berempati kepada anak, misalnya kalau dia sedang bercerita, usahakan memahaminya walaupun mungkin yang diceritakannya terdengar tidak penting. Intinya apapun yang sedang dirasakan Si Kecil, katakan bahwa kita turut merasakannya. Selanjutnya berikan penjelasan bila anak salah, namun berikan juga solusi untuk menghadapinya.

 

Lakukan Ini

Apa yang harus dilakukan orangtua bila anaknya di-bully? Walau tindakannya masih bersifat mengancam atau memusuhi, harus tetap dilaporkan pada pihak sekolah, agar bisa dicarikan solusinya. Mungkin awalnya hanya menegur pada anak yang mem-bully, misalnya. Namun jika sudah sangat menghawatirkan, pihak sekolah harus mempertemukan orangtua murid agar bisa memberi pengarahan pada anak masing-masing. Intinya keterlibatan orangtua dan guru bukan untuk memperkeruh keadaan, tapi untuk mencari solusi terbaik. Bila sudah keterlaluan, atau terjadi kekerasan fisik, tetap harus ada solusi bagi anak yang membully dan yang dibully dengan cara mempertemukan orangtua, dan usahakan jangan dibawa ke ranah hukum, karena akan berdapak buruk juga bagi si pelaku yang dibawah umur. Untuk anak yang di-bully, sebaiknya orangtua melakukan pendekatan ekstra, jika perlu direhabilitasi ke psikolog untuk menghilangkan trauma-trauma yang ada.  (DL)


foto: www.childrens.com