Mewariskan Nilai Positif Pada Anak

Fatherhood - 04 Aug 2017

Semua orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dan salah satunya adalah mempersiapkan banyak “warisan’ bagi mereka. 

Sebagai pemimpin rumah tangga, ayah tentu berperan penting dalam membangun dan menata rumah tangga. Biasanya para ayah yang baik berusaha dengan bekerja yang keras untuk menafkahi seisi rumahnya. Ketika memiliki anak, tentu perhatian ayah akan fokus kepada anak dan berupaya sekuat tenaga agar mereka bahagia. Memberi mainan terbaik, fasilitas yang terbaik hingga banyak warisan di masa tua. Namun apa jadinya bila kita sebagai orangtua hanya fokus memberikan kesenangan, tanpa mewariskan nilai-nilai positif yang bisa mereka gunakan untuk kehidupan mendatang? 

Berdasarkan Pengalaman

Seorang petani tentu ingin anaknya lebih berhasil, seorang tukang bakso juga ingin anaknya lebih berhasil dari orangtuanya. Bahkan seorang pengusaha sekalipun ingin anaknya bisa melampaui dirinya. Kasarnya, seorang penjahat pun, pastinya ingin memberi yang terbaik bagi orang-orang yang dikasihinya. Namun hal-hal baik tersebut bisa saja bertolak belakang bila kita salah langkah. Karena itu, tanamkanlah nilai-nilai postitif yang ada. Contohnya saja, bila generasi pertama membangun sebuah perusahaan, generasi kedua menikmatinya, atau generasi ketiga bisa saja tinggal menghabiskannya dan menghancurkannya. Bila sudah terjadi begini, apa yang akan terjadi dengan generasi selanjutnya? Apakah akan lebih hancur atau bisa jadi malah akan bangkit. 

Warisan Berharga 

Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, bahkan tidak mewariskan seluruh hartanya kepada anak-anaknya. Pada Juni 2006, Buffet mengumumkan rencananya untuk menyumbangkan 85% dari kekayaannya untuk amal. Alasan Buffet melakukan hal itu adalah: “Tidak ada alasan generasi Buffet selanjutnya memimpin di masyarakat, hanya karena mereka lahir di rahim yang tepat. Dimana Letak keadilannya?” Memang aneh dan bahkan terkesan kontroversial pernyataan Buffet ini. Namun yang jelas, ia ingin generasi selanjutnya tidak lembek dan hanya mengandalkan kekayaannya. Ini dilakukan supaya anak-anaknya menyadari bahwa hal utama yang diwariskan oleh ayahnya adalah nilai-nilai positif dan bukan hanya semata-mata uang. Buffet mengerti mewariskan uang seringkali tak bertahan lama dan sebaliknya, ia mewariskan nilai-nilai positif yang justru menjamin keturunannya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. 

“Nutrisi Positif” 

Sejak dini, kita harus memberi nutrisi positif atau mencontohkan hal-hal yang baik bagi anak. Pertama-tama adalah nilai-nilai agama yang penting diajarkan. Seorang ayah adalah imam dalam keluarga dan harus mencontohkan yang baik dan membimbing seisi keluarga. Contohnya bila kita seorang muslim, mengajak anak untuk rajin sholat 5 waktu atau bila beragama Kristen, rajin mengajak anak beribadah di Gereja. Selain agama, ajarkan juga nilai moral, kejujuran, kasih sayang, dan sopan santun. Berikutnya adalah kemandirian dengan memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan apa yang  mereka sukai, serta mempercayai anak untuk belajar bersosialisasi dengan lingkungan. Ajarkan anak untuk saling tolong menolong, bekerjasama dan gigih dalam berusaha. Tidak mudah memang dan pasti ada pasang surutnya, namun sebagai keluarga, ayah juga memiliki istri yang siap membantu dan bekerjasama dalam mewujudkan itu. (DL)

foto: miscw.com