Berjalan Kaki Bikin Otak Encer?

Health - 07 Jan 2019

Berjalan kaki setiap hari dapat membantu menjaga kesehatan otak, mendukung ketahanan fungsi kognitif secara keseluruhan, demikian menurut penelitian teranyar yang dilakukan oleh University of California, Los Angeles.

Seiring bertambahnya usia, masalah terkait daya ingat bisa mulai terjadi. Ini bisa menjadi bagian alami dari penuaan dan gangguan ringan, namun dalam beberapa kasus, masalah tersebut dapat mengindikasikan kerusakan kognitif ringan dan bahkan bisa berkembang menjadi demensia atau kepikunan. Terlepas dari seberapa ringan atau parah masalah ingatan ini, tak bisa dimungkiri hal ini mengkhawatirkan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. 

Penelitian terbaru dari Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior di University of California, Los Angeles menunjukkan bahwa ada cara yang relatif mudah untuk menjaga otak dalam kondisi prima saat bertambah tua, yaitu berjalan kaki dalam durasi cukup lama setiap hari. Berjalan kaki dapat meningkatkan konsentrasi sehingga efisien dalam memproses informasi juga kemampuan kognitif lainnya, demikian menurut penulis studi Prabha Siddarth dan rekannya yang telah mempublikasikan temuan ini di Journal of Alzheimer's Disease. 

Siddarth dan tim awalnya merekrut 29 orang dewasa berusia 60 ke atas, dimana 26  responden berhasil menyelesaikan studi selama periode 2 tahun. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok yang berbeda: Kelompok aktivitas fisik rendah, terdiri dari orang-orang yang berjalan 4.000 langkah atau lebih sedikit setiap hari. Kelompok aktivitas fisik tinggi, terdiri dari orang-orang yang berjalan lebih dari 4.000 langkah per hari. Semua peserta melaporkan tingkat keluhan memori pada awal penelitian, namun tidak satu pun yang didiagnosis demensia. Untuk mengetahui potensi efek aktivitas fisik pada kemampuan kognitif, peneliti menggunakan MRI untuk mengetahui volume dan ketebalan hippocampus - merupakan daerah otak yang terkait dengan pembentukan dan penyimpanan ingatan, dan orientasi spasial. 

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ukuran dan volume wilayah otak ini dapat memberi tahu kita sesuatu tentang kesehatan kognitif. Misalnya, volume hippocampus yang lebih tinggi telah terbukti menunjukkan konsolidasi memori yang lebih efektif. "Beberapa penelitian telah melihat bagaimana aktivitas fisik mempengaruhi ketebalan struktur otak," kata Siddarth. "Ketebalan otak, ukuran yang lebih sensitif daripada volume, dapat melacak perubahan halus di otak lebih awal dari volume dan dapat memprediksi kognisi secara independen. 

Jadi ini adalah pertanyaan penting." Selain pemindaian MRI, para peserta juga menjalani serangkaian tes neuropsikologis untuk mengonsolidasikan penilaian kapasitas kognitif mereka. Penelitian menemukan bahwa mereka yang berada dalam kelompok aktivitas fisik tinggi - yang berjalan lebih dari 4.000 anak tangga (sekitar 3 kilometer) setiap hari - memiliki hippocampus serta daerah otak yang lebih tebal, bila dibandingkan dengan yang aktivitas fisiknya lebih rendah. Kelompok yang sangat aktif juga memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih baik, memproses informasi yang lebih cepat, dan fungsi eksekutif yang lebih efisien, yang mencakup pekerjaan mengingat (memori kerja). 

Memori kerja adalah sumber daya yang digunakan setiap hari ketika kita perlu membuat keputusan spontan. Namun, Siddarth dan rekannya tidak melaporkan adanya perbedaan yang signifikan antara aktivitas tinggi dan kelompok aktivitas rendah ketika mengingat ingatan. Langkah selanjutnya, para peneliti menekankan perlunya analisis longitudinal untuk menguji hubungan antara aktivitas fisik dan kemampuan kognitif seiring berjalannya waktu, demikian Medical News Today. Mereka juga menekankan pentingnya untuk lebih memahami mekanisme di balik penurunan kognitif dalam kaitannya dengan atrofi hippocampus.

sumber: dokterdigital.com

foto: images.thestar.com