Mengabaikan Sarapan Bikin Kinerja Otak Tidak Maksimal

Health - 13 Sep 2018

Masih banyak yang belum tahu bahwa saat tidur, sebagian organ tubuh tetap bekerja, misalnya otak, jantung, pankreas dan sistem pencernaan. Organ tersebut tetap bekerja menjalankan fungsi-fungsinya sehingga tetap membutuhkan asupan energi (metabolisme basal) rata-rata sebesar 30 – 35 kkall / kgbb sehingga butuh asupan gizi saat bangun. 

Menurut perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ulul Albab, pada saat tidur, terjadi metabolisme basal dimana organ tubuh tetap bekerja dan membutuhkan energi sehingga perlu asupan gizi saat bangun. "Karena energi terpakai saat tidur, itulah sebabnya saat di pagi hari kita kerap merasa lemas dan tidak berenergi. Kareannya butuh sarapan bergizi agar tetap sehat dan siap konsentrasi," kata Ulul dalam temu media mengenai pentingnya sarapan bergizi yang dihelat Energen di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kita tahu, sarapan merupakan makanan terbaik sepanjang hari. Namun sarapan bukanlah sekadar makan, melainkan harus memenuhi 25 persen sumber energi yang dibutuhkan untuk beraktivitas sepanjang hari. Pendapat ini terasa relevan dan sudah terbukti secara ilmiah. Sarapan merupakan bagian gaya hidup sehat yang sebaiknya tidak dilewatkan dan sangat penting dilakukan. Sarapan baukan hanya sebagai sarana untuk mendapatkan energi, agar kita tidak lemas saat beraktivitas. Nyatanya, sarapan memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Riset menunjukkan sarapan mempunyai pengaruh positif terhadap proses pembelajaran di sekolah termasuk kinerja kognitif dan prestasi di sekolah. Kinerja kognitif ini terutama dalam hal daya ingat dan kemampuan memperhatikan pelajaran di sekolah. Kebiasaan sarapan juga berhubungan positif dengan kualitas nilai dan  prestasi di sekolah. 

Sarapan memegang kunci, namun sayangnya masih banyak anak usia sekolah yang melewatkan sarapan. Dengan alasan beragam, misalnya sulit membangunkan anak lebih pagi, anaknya sulit diajak sarapan, tidak cukup waktu untuk mempersiapkan sarapan di pagi hari atau takut terlambat ke sekolah. Ini patut disayangkan mengingat sarapan ternyata memiliki korelasi erat dengan kerja otak dan pengaruhnya pada kemampuan konsentrasi dan berpikir akademis. Dengan kata lain, sarapan pada anak penting karena dapat membantu mengembangkan cara berpikirnya. Penelitian menunjukkan, anak-anak yang jarang atau tidak pernah sarapan akan memiliki cabang otak yang sedikit sehingga menghambat daya berpikirnya. Sedangkan anak yang selalu sarapan akan memiliki banyak cabang di otak sehingga menghasilkan anak yang cepat tanggap. Disampaikan Ulul, anak yang tidak melakukan sarapan akan cenderung lamban dalam beraktivitas dan memiliki tingkat konsentrasi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sarapan untuk anak terutama ketika anak masih sekolah adalah hal yang sangat penting.

 Mengapa sarapan khususnya untuk anak penting dilakukan? Tak lain karena anak-anak mempunyai metabolisme glukosa otak yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Studi mengenai Positron Emission Tomography mengindikasikan bahwa tingkat metabolisme dari penggunaan glukosa kurang lebih dua kali lipat lebih tinggi pada anak-anak usia 4-10 tahun dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, anak-anak memiliki periode 'puasa' yang lebih lama karena mereka memerlukan waktu tidur yang lebih panjang dibandingkan orang dewasa. Hal ini dapat menghabiskan cadangan glikogen selama tidur. Untuk menjaga kadar metabolisme yang lebih tinggi. "Asupan energi yang terus-menerus dari glukosa tentunya sangat dibutuhkan. Karena itu konsumsi sarapan bernutrisi sangat penting untuk memberikan energi yang cukup di pagi hari agar kinerja otak bisa maksimal," jelas Ulul. Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Prof Hardinsyah sependapat. "Dengan terpenuhinya kebutuhan nutrisi dalam tubuh  anak, mampu meningkatkan konsentrasinya dalam menerima pelajaran, oleh karena itu orangtua perlu memperhatikan dan menyiapkan sarapan bernutrisi untuk buah hatinya," ujarnya. Asupan makanan saat sarapan untuk membentuk energi yang akan digunakan beraktivitas seharian dan menjadikan anak lebih berkonsentrasi dalam belajar. Dengan sarapan, anak dapat konsentrasi dengan baik dan siap beraktivitas. Tubuh membutuhkan gizi yang tepat untuk mengembalikan energi setelah tubuh berpuasa selama 8 jam ketika tidur malam, sehingga dibutuhkan asupan yang tepat dengan menu sarapan bergizi. Menu sarapan bergizi adalah yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Riset yang telah dilakukan oleh PERGIZI Pangan Indonesia menyebut konsumsi sarapan bergizi dengan gizi seimbang berperan besar bagi anak-anak sekolah. Selain itu, sarapan bergizi harus mampu memenuhi kebutuhan gizi harian. “ Hardinsyah menegaskan, sarapan bergizi terbukti mampu mengembalikan energi tubuh dan membantu meningkatkan konsentrasi pada saat belajar hingga membantu meningkatkan prestasi akademis, menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat, sekaligus mencegah anak dari konsumsi jajanan yang tidak sehat.

sumber:dokterdigital.com

foto: independent.co.uk