Waspadai Gagal Ginjal Kronis pada Perempuan

Health - 08 Mar 2018

Perempuan menghadapi banyak tantangan kesehatan, termasuk di antaranya terkait penyakit ginjal, berupa gagal ginjal kronis - masalah kesehatan di dunia dengan komplikasi gagal ginjal dan kematian. Menurut Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dr. Aida Lydia, PhD, SpPD-KHG, gagal ginjal kronis merupakan penyebab kematian nomor delapan tertinggi pada perempuan. Jumlah kematian akibat kondisi ini boleh dibilang tak bisa dianggap sepele, yaitu mencapai hampir 600 ribu kematian setiap tahun. 

Data menunjukkan, sekira 195 juta perempuan di seluruh dunia menderita gagal ginjal kronis. Menurut data Renal Registy Indonesia 2016, pasien yang menjalani cuci darah sekitar 46% lebih adalah perempuan. Aida menyoroti masalah kesehatan ginjal pada perempuan perlu diwaspadai. Dia mengatakan, jumlah perempuan yang menjalani dialisis (cuci darah) atau cangkok ginjal lebih rendah dibanding pria. Setidaknya ada tiga alasan untuk ini. "Perjalanan penyakit ginjal kronis yang lebih lambat pada perempuan, rendahnya kesadaran akan penyakit ginjal yang menyebabkan keterlambatan atau tidak dimulainya dialisis, dan akses kesehatan yang tidak merata," ujar Aida dalam acara diskusi bertajuk "Ginjal, Kesehatan dan Perempuan" yang diselenggarakan oleh Pernefri, Kementerian Kesehatan dan perusahaan farmasi Baxter di Jakarta, Rabu (7/3). 

Batasi Konsumsi Air Putih Menjaga kesehatan ginjal dapat dilakukan dengan mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup. Namun bagi pasien gagal ginjal justru diimbau untuk mengurangi konsumsi air. Mengapa? Saat pasien didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis stadium lanjut, banyak minum dapat menyebabkan terjadinya penumpukan cairan. Bila penumpuakan terjadi di paru, pasien akan mengalami sesak napas. Meski demikian, Aida menegaskan tidak semua orang dengan gagal ginjal dianjurkan untuk membatasi minum air putih. 

Menurutnya, kebutuhan cairan pada orang dengan gagal ginjal tergantung pada stadiumnya. Aida menerangkan beberapa penggolongan stadium penurunan fungsi ginjal, dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal berdasarkan LFR (Laju Filtrasi Glomerulus). Pada stadium pertama, LFR berada di angka lebih dari 90 ml/min/1.73m2. Dalam kondisi tersebut, fungsi filtrasi pada ginjal masih berjalan normal, tetapi disertai dengan tanda-tanda kerusakan pada ginjal. Apabila jumlah LFR berada pada angka kurang dari 15 ml/min/1.73m2, ini menunjukkan seseorang sudah mengalami gagal ginjal kronis. Sayangnya, meningkatnya stadium gagal ginjal tidak dapat dihitung secara matematis. 

"Tergantung penyebabnya, jadi inilah keunikan manusia. Diagnosis yang sama bisa berbeda-beda penyebabnya," ujarnya. Ibu Hamil Gagal Ginjal Kronis Ibu hamil penderita gagal binjal kronis memiliki risiko kesehatan yang tinggi, baik bagi diri sendiri maupun bayi di dalam kandungan. Oleh karena itu, perempuan penderita gagal ginjal kronis yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan harus menjalani konsultasi pra-kehamilan dan pemeriksaan kondisi kesehatan menyeluruh dengan beberapa dokter spesialis, termasuk nefrologis, dokter kandungan, dan bidan. Pada perempuan penderita gagal ginjal kronis stadium lanjut, kehamilan menjadi tantangan terbesar karena memiliki tingkat gangguan hipertensi dan kelahiran prematur yang tinggi. 

Perempuan yang mengalami gagal ginjal kronis dapat berkurang kesuburannya, namun tetap dapat hamil walaupun jarang terjadi, saat melakukan dialisis. Dengan pengobatan dialisis, hasilnya akan membaik dengan dialisis yang intensif (harian atau setiap 2 hari sekali), karena itu dibutuhkan program khusus untuk para perempuan dalam usia produktif. Sebelum merencanakan kehamilan, ada beberapa kondisi yang harus sangat dipertimbangkan oleh ibu hamil penderita gagal ginjal kronis seperti usia, kondisi kesehatan, tekanan darah, sejarah diabetes atau hati, juga seberapa parah kondisi ginjalnya. Sebagai informasi, ibu hamil sangat rentan terkena penyakit ginjal, seperti penyempitan saluran kemih, pembengkakan ginjal, ginjal kering, infeksi ginjal hingga gagal ginjal kronis. Selain itu, mereka juga rentan menderita komplikasi kehamilan yang disebabkan kegagalan ginjal, seperti pre-eclampsia, hipertensi, dan protein dalam urin.

sumber: dokterdigital.com

foto: hindustan times