Menikah Usia Muda Sumbang Angka Kematian Ibu

Maternity - 06 Jun 2018

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) masih menjadi isu krusial di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Setiap satu jam, terdapat dua ibu dan delapan bayi baru lahir (neonatal) meninggal di Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, kematian ibu dan neonatal di Indonesia relatif stagnan. Angka kematian ibu di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup 2015 dan angka kematian neonatal mencapai 15 per 1.000 kelahiran hidup pada 2017. 

Dengan angka tersebut, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kematian ibu dan neonatal yang paling tinggi. Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Dr. Eni Gustina, MPH menyebut, apabila dilihat dari angka absolut, AKI dan AKB di lima provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara tinggi terkait dengan juga tingginya angka kehamilan di lima wilayah tersebut. Eni menyebut, salah satu pemicu tingginya AKI dan AKB di Indonesia adalah pernikahan di usia muda. Jika ditelusuri, menikah di usia muda tidak hanya berisiko pada kehamilan pertama saja, namun juga di kehamilan selanjutnya.

 “Hal ini disebabkan pada Rahim ibu muda belum siap tapi sudah dipaksakan untuk hamil, sehingga risiko penyakit lain juga semakin tinggi,” kata Eni di sela-sela diskusi media yang digagas Kemenkes dan USAID di Jakarta, baru-baru ini. Kematian ibu dan anak baru lahir menjadi salah satu penyumbang kematian terbesar untuk perempuan di Indonesia. Eni menyebut, sekian banyak ibu meninggal setiap hari tetapi dianggap biasa saja di masyarakat. Padahal, ini bukan hal remeh dan sudah seharusnya menjadi perhatian bersama. "Banyak orang menganggap hal itu biasa. Ibu yang meninggal masuk surga. Ini tidak begitu. Semua harus peduli dengan kematian ibu dan bayi," beber Eni. 

Eni menambahkan, kematian ibu dapat terjadi pada saat kehamilan, persalinan, maupun pasca-persalinan. Artinya, dalam setiap tahap pada proses kehamilan sampai pasca persalinan, seorang ibu memiliki risiko untuk meninggal. Studi tindak lanjut sensus penduduk 2010 menyebutkan bahwa kasus kematian ibu terbesar terjadi pada masa pasca-persalinan sekitar 57 persen, diikuti pada masa kehamilan 22 persen, dan saat melahirkan sekitar 15 persen. Sebagian besar kematian ibu dan neonatal dapat dicegah. “Penyebab kematian ibu di Indonesia terutama disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan 32 persen, dan pendarahan pasca-persalinan sekitar 20 persen,” urai Eni. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah kedua kondisi ini. Selain itu, tinginya angka perkawinan dan melahirkan pertama kali di bawah usia 20 tahun masih merupakan awal permasalahan kesehatan pada perempuan di Indonesia. 

Hal ini dapat meningkatkan risiko komplikasi dalam kehamilan yang dapat berujung pada kematian ibu dan neonatal. Eni lebih lanjut  menambahkan, sebesar 60 persen kematian ibu dan 78 persen kematian neonatal terjadi di fasilitas kesehatan. Kondisi ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan kesehatan, dalam setiap tahap, sejak dari pemeriksaan kehamilan, layanan persalinan, sampai pasca-persalinan. Data menunjukkan, saat ini, hanya 21 persen rumah sakit umum yang memenuhi standar layanan obstetri dasar. Untuk layanan kesehatan primer, hanya 31 puskesmas dan kurang dari 10 persen layanan kesehatan swasta yang memenuhi seluruh kriteria untuk pelayanan pemeriksaan kehamilan yang komprehensif sesuai standar.  

sumber: dokterdigital.com
foto:dialymail.uk