Disleksia Bukan Berarti Bodoh

Tips & Tricks - 03 Jul 2018


 

Pernah melihat anak Anda kesulitan dalam membaca dan menulis? Kemungkinan anak Anda mengalami disleksia.

Disleksia sebenarnya bukan penyakit yang berbahaya, karena secara fisik, anak yang mengidap disleksia tidak ada bedanya dengan anak-anak normal lainnya. Menurut pengertiannya, disleksia adalah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang menyebabkannya tidak bisa melakukan aktivitas membaca dan menulis secara benar. Bukan hanya itu, penderita disleksia juga sering mengalami masalah dalam menentukan urutan; termasuk dari bawah ke atas, ke kiri ke kanan dan sulit menerima perintah yang seharusnya diteruskan ke memori otak.

Menurut para peneliti, kelainan ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan ada di antaranya yang merupakan faktor keturunan. Jadi bisa disimpulkan bahwa disleksia adalah suatu kondisi medis yang berbasis di otak. Pada orang yang mengalami kondisi ini, ada komunikasi yang buruk antara belahan otak kiri dan kanan, sehingga menjadi tidak sinkron. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa 10% anak-anak usia sekolah menderita disleksia, bahkan beberapa peneliti mengungkapkan penderita disleksia di seluruh dunia mencapai 15%. Mungkin angka ini termasuk kecil, namun kenaikannya cukup mengkhawatirkan. Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Menurut catatan Asosiasi Disleksia Indonesia, penderita disleksia di Indonesia di tahun 2010 mencapai 10% dari 50 juta anak usia sekolah.   

Kenali Gejalanya

Mengenali gejala disleksia ini memang gampang-gampang susah dan biasanya baru terlihat jelas pada usia-usia sekolah. Berikut beberapa gejala yang patut dicurigai jika disleksia menyerang anak, seperti: susah membedakan huruf (b bisa tertukar menjadi d), terlambat bicara, susah menambah kosakata, konsentrasinya gampang terpecah, sulit memahami perkataan orang lain, tidak bisa menerima perintah dalam porsi yang banyak, tidak bisa diberi pertanyaan yang panjang lebar dan sering membaca dengan terbalik (misalnya kedelai jadi keledai).

Anak yang mengalami hal tersebut sebenarnya tidak memerlukan obat-obatan, mereka hanya memerlukan perhatian lebih dan mengikuti program-program perawatan yang bisa mengurangi kondisi disleksia secara umum. Secara garis besar, ada beberapa jenis disleksia yang umum seperti: Disleksia Visual atau disleksia penglihatan (kesulitan utama yang dialami penderita biasanya adalah untuk mengenal dan mengingat abjad dan tulisan). Selain itu ada Disleksia Auditori atau disleksia pendengaran (penderita disleksia jenis ini sering kesulitan dalam mengingat bunyi dari abjad dan perkataan dan umumnya semua yang tertulis susah untuk diterjemahkan secara tepat). Selanjutnya adalah Disleksia Campuran antara Visual dan Auditori (mereka yang mengalami disleksia jenis ini mengalami kesulitan dalam melihat dan mendengar, karena mereka mengalami kelemahan untuk memproses, baik secara visual maupun audio).

Pengobatan Tepat

Sebenarnya tidak ada obat-obatan khusus untuk penderita disleksia, namun disleksia tetap mampu ditangani, asalkan dengan terapi yang tepat. Gangguan disleksia sendiri terkadang jarang dipahami atau diketahui oleh lingkungannya, termasuk orangtuanya sendiri. Akibatnya para penderita, termasuk anak-anak, cenderung dianggap bodoh dan lamban dalam belajar. Alangkah baiknya jika orangtua peka terhadap kesulitan anaknya dan segera mencari apa faktor penghambat proses belajarnya.

Dalam menghadapi anak pengidap disleksia, sebaiknya orangtua tidak memberi kesan negatif (seperti bodoh dan pemalas), jangan juga membandingkan anak dengan anak orang lain dan  jangan memberikan tekanan yang berlebih, karena ini akan menyebabkan si anak menjadi stres. Mengajari anak disleksia untuk membaca memang bukan proses yang mudah, tapi kalau belum terlalu parah, kita bisa mengajari anak kita sendiri. Perlu diketahui, anak pengidap disleksia biasanya memiliki short term memory dan kosa kata yang sedikit, sehingga memerlukan banyak perhatian. Cara yang paling mudah untuk mengajar mereka adalah dengan memvariasikan metode belajar dengan permainan kata atau mengajak anak kita jalan-jalan sambil membaca tulisan-tulisan yang ada disekitarnya.

Bisa Berprestasi

Tenang, meski mengalami disleksia, bukan berarti masa depan anak-anak kita suram kok! Ada berita menggembirakan bagi para penderita disleksia: mereka masih memiliki kesempatan untuk berprestasi dan bahkan melebihi kemampuan anak-anak normal lain pada umumnya. Banyak tokoh terkemuka yang terkenal di seluruh dunia dan berhasil di bidangnya juga mengidap disleksia, misalnya Albert Einstein (penemu teori relativitas), Agatha Christie (penulis kisah detektif terkenal), Alexander Graham Bell (penemu telepon), Leonardo DaVinci (ilmuwan dan seniman), dan Walt Disney (sutradara, animator dan pengusaha), Tom Cruise (aktor & produser) dan masih banyak lainnya.

Mengapa mereka berprestasi sehebat itu? Karena anak-anak pengidap disleksia memang tidak bodoh. Meraka hanya memerlukan penanganan dini dan perhatian khusus saja. Begitu kita menjumpai gejalanya, berikan terapi sedini mungkin. Selain itu kita bisa memberikan motivasi berupa pujian atau hadiah kecil setiap kali anak berhasil melewati kesulitannya. Kalau butuh bantuan, Anda bisa mempercayakan tempat-tempat bimbingan belajar membaca atau di tempat-tempat terapi khusus disleksia. Peran kita sebagai orangtua sangat besar dan sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan si anak. Selamat mencoba, ya!


Tips Mengajar Anak Disleksia:

1.    Gunakan pena berwarna agar tulisan lebih terlihat. Kata-kata yang penting bisa ditandai dengan stabilo agar lebih mudah diingat.

2.    Jangan memaksakan kalimat yang panjang-panjang dulu pada anak.

3.    Gunakan video atau film anak-anak yang ada teksnya, karena biasanya mereka akan mengingat. Lakukan secara berulang-ulang.

4.    Jangan sering menyuruh anak membaca keras-keras di depan umum, karena pada umumnya pengidap disleksia tidak suka suara bising.

5.    Jika telah mengajarkan sesuatu dengan benar dan tepat, puji mereka. Sebaliknya bila mereka gagal, jangan dicemooh. Ulangi terus dengan sabar sampai mereka bisa.

6.    Jika anak terlihat jenuh atau pusing, biarkan mereka beristirahat. Bila tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, jangan dipaksa.

7.    Biarkan anak mengeksplorasi topik yang mereka sukai dan berikan kebebasan mereka seluas mungkin untuk memahami topik tersebut dengan caranya sendiri.

8.    Buku-buku yang dipelajari tidak harus berupa buku pelajaran, buku yang menyenangkan lebih disarankan, seperti buku cerita bergambar misalnya. (DL)