Ibu yang Baikkah, Kita?

Tips & Tricks - 09 Feb 2018

Setiap wanita pasti ingin menjadi ibu yang baik bagi anaknya dan menciptakan kondisi rumah yang menyenangkan bagi keluarganya. Namun dalam menjalani peran sebagai seorang ibu, sebagian besar kaum wanita pastilah pernah merasa kewalahan.

Rasa kewalahan itu bisa terjadi saat kita menghadapi anak yang tantrum msialnya. Atau saat kita mengarahkan anak untuk makan makanan yang bergizi, mengusahakan agar anak tidak bertengkar dengan kakak atau adiknya, dan sebagainya. Perasaan bersalah atau malu karena merasa salah mengambil keputusan atau tindakan dalam mendidik anak, tidak jarang pula menghinggapi para ibu. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa dirinya bukanlah seorang ibu yang baik. Untuk menghilangkan pikiran dan perasaan negatif tersebut, umumnya seorang ibu akan berusaha lebih keras lagi untuk menjadi ibu yang baik. Semakin ia terganggu dengan pikiran tersebut, maka semakin keraslah usahanya untuk mengalahkan pikiran tadi, demi meningkatkan perasaan berharganya. Akibatnya, tidak jarang para ibu mengabaikan kebutuhan pribadinya demi “mengurus anak”.

Karenanya tak sedikit ibu-ibu yang memiliki anak berpenampilan terawat baik, namun penampilan sang ibu sendiri malah tidak terawat, bahkan tidak jarang pula sang ibu mengabaikan kesehatannya demi anaknya. Para ibu yang demikian, biasanya merasa hidupnya sangat sibuk dan kehidupannya hanya berkisar seputar mengurus keluarga, atau pekerjaan kantor, bila ibu tersebut juga bekerja di luar rumah. Hampir tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan keluarga besar maupun teman, apalagi untuk menjalani hobi atau pengembangan diri lainnya, baik sebagai individu maupun sebagai seorang profesional, bila ibu tersebut bekerja.

Tidak Bahagia

Akibatnya, setelah beberapa lama, para ibu yang mengalami hal itu umumnya semakin merasa tidak bahagia dalam kehidupannya. Namun sayangnya, mereka sendiri tidak tahu mengapa bisa demikian. Berbagai macam pertanyaan biasanya berputar dalam pikiran para ibu tersebut. “Mengapa aku tidak bahagia saat mengurus anakku sendiri dan saat bersama anak-anakku. Apakah aku bukan ibu yang baik? Mengapa ibu-ibu lain sepertinya bisa memiliki waktu untuk memperhatikan penampilan. Sedangkan aku, jangankan untuk mengurus penampilan, untuk mandi saja aku sering harus buru-buru. Apakah aku bukan ibu yang bisa membagi waktu dengan baik?”

Begitulah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan terus ada dan akan selalu muncul. Hal ini membuat ibu tersebut semakin dikuasai kesedihan dan stres, sehingga semakin mengurangi keefektifannya dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu bagi anak dan keluarganya. Bisa dibilang kondisi ini seperti ‘lingkaran setan’ bagi para ibu. 

Tentu tidak ada seorang ibu pun yang secara sadar ingin berada dalam kondisi seperti itu. Untuk menghindari hal itu, pertama-tama yang harus dilakukan adalah melepaskan diri dari mitos “ibu yang baik”. Mitos apakah itu? Mitos bahwa seorang ibu yang baik pasti akan memiliki anak yang baik pula. Mitos tersebut terkait dengan mispersepsi yang umum dalam masyarakat, yakni bahwa anak adalah cerminan dari baik atau tidaknya seorang ibu. Dalam dunia ilmiah, fenomena tersebut dikenal sebagai “Achievement by Proxy Syndrome”. Sindrom tersebut umumnya menimbulkan banyak masalah. Dalam konteks ini, masalah yang timbul  adalah sang ibu menggantungkan nilai dirinya sebagai seorang individu bukan pada tindakannya sendiri, melainkan pada tindakan anaknya.

Lupakan Mitos

Performa seorang wanita dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu tentunya akan berpengaruh kepada baik atau tidaknya perilaku anaknya. Namun perlu disadari juga bahwa ada faktor-faktor lain di luar kuasa seorang ibu, yang juga akan mempengaruhi perilaku si anak. Misalnya saja kesehatan anak, pengaruh teman dan guru di sekolah, pengaruh lingkungan bermain di rumah dan sebagainya. Dengan begitu, tidak selalu perilaku buruk anak merupakan cerminan kegagalan seorang wanita dalam menjalankan perannya sebagai ibu yang baik.

Selain itu, yang tidak kalah penting untuk juga disadari adalah nilai seorang individu tidak bisa ditentukan begitu saja oleh tindakan individu lain. Ini berarti, nilai diri ibu sebagai seorang individu, tidak lantas ditentukan oleh baik atau tidaknya perilaku anaknya.

Mitos lain yang perlu dihilangkan adalah bahwa ibu yang baik selalu memprioritaskan kebutuhan dan kepentingan anaknya dibanding diri sendiri. Ibu-ibu yang demikian umumnya cenderung berpikir bahwa menyediakan waktu untuk diri sendiri bukan hal yang perlu diprioritaskan, sehingga mereka sering merasa bersalah jika meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Akibat yang seringkali muncul adalah timbulnya rasa letih yang konsisten, sehingga para ibu tersebut menjadi tidak sabaran terhadap anaknya ataupun sering dikuasai kesedihan ataupun stres secara tiba-tiba.

Pola Asuh Efektif

Untuk menghindari kondisi yang demikian, para ibu perlu menyadari bahwa memenuhi kebutuhan diri sendiri bukan suatu tindakan yang egois, melainkan tindakan yang memang diperlukan agar bisa berperan secara efektif dalam kehidupan. Penerapan prinsip ini bisa dilihat pada instruksi yang ada di setiap penerbangan, di mana bila ada kondisi darurat, maka para orangtua-lah yang terlebih dahulu memakai masker udara, sebelum menolong anak-anak mereka. Instruksi tersebut diberikan bukan karena maskapai penerbangan lebih memprioritaskan orang dewasa, melainkan karena sudah terbukti bahwa orangtua tidak akan bisa berperan secara efektif, bila kebutuhan pribadinya tidak terpenuhi, dalam hal ini kebutuhan akan masker udara.

Dengan demikian, jelaslah bahwa seorang ibu yang baik akan menghargai dan memerhatikan kebutuhan dirinya sebagai bagian dari pola asuh yang efektif bagi anak-anaknya. Ia juga akan melihat dan memerhatikan konteks dirinya secara lebih menyeluruh, tidak hanya sebagai seorang ibu saja, tapi juga sebagai seorang istri, seorang kakak atau adik, seorang teman, termasuk sebagai seorang profesional, bila ibu tersebut bekerja.

Selain itu, ia akan menyadari bahwa keberhasilannya dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu, dipengaruhi oleh konteks kehidupannya secara keseluruhan dan juga oleh kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sebagai seorang individu. Namun perlu disadari bahwa konsep ini walaupun sederhana, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa dilatih dan diterapkan dengan baik, karena semua perubahan pola pikir dan kebiasaan memerlukan waktu lama untuk berakar. Selamat menjadi “ibu yang baik”! (EP)

foto: newkidscenter.com