Menerapkan Disiplin, Tanpa Tangan Berbicara

Tips & Tricks - 06 Mar 2018

Banyak orangtua menghadapi dilema ketika memberikan hukuman kepada balita dalam rangka menerapkan disiplin. Di satu sisi, orangtua khawatir bila tidak dihukum, balita akan menjadi tidak disiplin. Di sisi lain, tak jarang orangtua iba bila anak menjalani hukuman yang diberikan.

 

Akibatnya, tak sedikit orangtua yang tidak mendisiplinkan balitanya dengan baik. Padahal tujuan orangtua mendisiplinkan balita pada dasarnya untuk melatih balita agar memiliki pemikiran, kebiasaan dan karakter yang baik, sesuai dengan norma agama dan budaya.

Cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut sebenarnya adalah dengan kasih, atau tepatnya dengan membuat balita “merasa” dikasihi. Kuncinya adalah pada perasaan balita, apakah balita “merasa” dikasihi atau tidak oleh orangtuanya. Bila balita merasa dikasihi, biasanya balita akan cenderung menuruti perkataan orangtuanya. Dalam kondisi demikian, orangtua hampir tidak memerlukan hukuman untuk mendisiplinkan balita. Permasalahan yang sering muncul adalah, walau semua orangtua mengasihi anaknya, tapi balita tidak merasakannya, sehingga balita sering tidak menuruti orangtuanya.

 

Ikuti Bahasa Kasih Balita

Sebenarnya bisa tidaknya balita merasakan bahwa orangtuanya mengasihinya, tergantung pada cara orangtua mengekspresikan rasa sayangnya. Cara paling efektif dalam mengespresikan kasih kepada balita adalah dengan menyesuaikan dengan bahasa kasih balita. Bila orangtua mengekspresikan kasihnya dengan bahasa yang bukan bahasa kasihnya balita, hasilnya tidak akan terlalu efektif. Bahasa kasih secara umum dapat dibagi menjadi lima kategori, yaitu kata-kata, pelayanan, pemberian, waktu dan sentuhan.

Bila bahasa kasih seorang balita adalah waktu, maka ia akan sangat merasa dikasihi bila orangtuanya banyak menyediakan waktu yang terfokus baginya. Misalnya, dengan meluangkan waktu bermain bersama atau jalan-jalan bersama. Namun bila orangtuanya menunjukkan kasihnya dengan cara lain yang tak sesuai dengan bahasa kasih balita, misalnya dengan memberikan banyak hadiah untuk si balita, maka hadiah tersebut tidak terlalu besar perannya dalam membuat balita merasa dikasihi orangtuanya. Sebaliknya, balita yang bahasa kasihnya pemberian, akan jauh lebih merasa disayang bila orangtuanya sering memberikan ia hadiah, dibanding sering diajak main bersama atau jalan-jalan bersama. Oleh karena itu, orangtua perlu mengenali bahasa kasih balita, agar bisa mengekspresikan kasih kepada balita dengan lebih efektif.

 

Fit Fisik, Mental dan Emosional

Sebagian besar kegagalan orangtua dalam mendisiplin balita secara positif, selain disebabkan kurangnya pengetahuan parenting, juga disebabkan kondisi yang tidak fit, baik secara fisik, mental atau emosional. Dalam kondisi tidak fit, biasanya manusia cenderung fokus pada kebutuhan atau keinginan diri sendiri dibandingkan kebutuhan orang lain, termasuk balitanya sendiri.

Selain itu, kondisi yang tidak fit juga bisa menyebabkan kita menjadi lebih sensitif dan tidak sabaran, ingin masalah beres secepatnya. Karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk menjaga dirinya agar tetap fit dalam berbagai segi, baik fisik, mental maupun emosional, agar dapat mendisiplin balita dengan lebih baik. Orangtua juga perlu ‘me time’ untuk mengurus diri sendiri, karena bila diri sendiri kurang terurus, maka kemampuan mengurus balita otomatis akan menurun.

 

Pola Disiplin Warisan

Hal lain yang juga memengaruhi keberhasilan orangtua dalam mendisiplin balita secara positif adalah pola disiplin yang diterimanya dari orangtuanya (kakek dan nenek) ketika ia masih balita. Pola disiplin yang diterima ketika seseorang tumbuh dewasa biasanya masuk ke alam bawah sadar, sehingga menjadi seperti “insting”. Bila menghadapi masalah kedisiplinan dengan balita, maka pola disiplin warisan itulah akan keluar tanpa disadari.

Misalnya, bila dulu seseorang kurang dikontrol oleh orangtuanya, maka ketika ia menjadi orangtua, tanpa disadarinya, ia juga akan cenderung kurang mengontrol balitanya. Kecuali bila pengalaman terhadap pola disiplin yang diterapkan ketika ia tumbuh dewasa itu dirasakan berdampak negatif, maka bisa terjadi sebaliknya, yaitu menjadi sangat mengontrol balita. Sulit sekali bagi mereka dengan latar belakang orangtua yang dulunya kurang mengontrol atau sangat mengontrol untuk bisa mengontrol balita dengan proporsi yang tepat.

Ada baiknya orangtua menyediakan waktu untuk berpikir dengan jernih tentang hal-hal apa saja yang perlu dilakukan agar bisa menerapkan pola disiplin yang positif bagi balita. Hal ini idealnya dipikirkan ketika orangtua dalam keadaan tenang, bukan ketika sedang menghadapi masalah kedisiplinan dengan balita. Karena bila sedang kesal, biasanya kemampuan orangtua untuk berpikir objektif tertutup emosi. Bila tak siap mencermati masalah ini, maka orangtua akan cenderung berpaling ke insting, ke pola disiplin yang diterima dari orangtuanya dulu.

Selain itu, pola disiplin yang akan diterapkan sebaiknya disepakati dengan balita sebelum terjadi masalah selanjutnya. Misalnya, apa konsekuensinya kalau balita tidak mau mandi, sebelum hal itu terjadi; apa konsekuensinya kalau balita tidak menepati janjinya, sebelum hal itu terjadi. Dengan begitu, ketika hal itu terjadi, reaksi orangtua ke balita tidaklah berdasarkan emosi ataupun insting, melainkan sesuai kesepakatan dengan balita. Selamat membangun pola disiplin yang positif bagi balita Anda. (ES)

 

 foto: supernanny.co.uk