Menyikapi Peristiwa Terorisme pada Anak

Tips & Tricks - 14 May 2018

Serangan terorisme berupa pemboman tiga gereja di Surabaya kemarin tentunya mengejutkan banyak pihak dan membuat sejumlah anak, terutama mereka yang berada dalam radius yang tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian, menjadi merasa tidak aman. 

Anak-anak mungkin tidak mengatakan secara langsung apa yang mengganggunya dan berusaha untuk menekan perasaan takutnya. Namun bila dampak dari pengalaman tersebut tidak tertangani dengan baik, maka hal itu kemungkinan akan dapat menimbulkan trauma pada anak. 

Bahkan pada kasus ekstrem, trauma yang terjadi dapat mengakibatkan regresi atau kemunduran dalam perkembangan anak, yang termanifestasi pada perilaku anak, dan mempengaruhi fungsi normal anak.  Regresi tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri psikologis yang terjadi secara bawah sadar untuk mendapatkan dukungan dan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Apa yang dapat dilakukan oleh orangtua, bila anak mengalami fenomena tersebut? Dalam kasus ini, orangtua perlu berusaha menunjukkan pengertian dan melakukan pengasuhan yang dapat mengisi jurang dalam tahap perkembangan anak yang tercipta akibat regresi tersebut. Hal tersebut akan menolong anak untuk mendapatkan kembali rasa aman yang dibutuhkannya untuk kembali menjalani kehidupan dengan normal. Dalam dunia konseling dan psikologi, hal ini dikenal dengan istilah pola asuh yang terapeutik. Prinsip pola asuh yang terapeutik pada dasarnya tidaklah berbeda dengan prinsip pola asuh yang baik pada umumnya. Hanya saja, pola asuh yang terapeutik memberikan penekanan pada terakomodasinya perilaku kelekatan anak. 

Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan perilaku kelekatan anak adalah dorongan yang bersifat naluriah dalam diri anak, yang membuatnya ingin berada dekat dengan pengasuh utamanya ketika ia merasa takut atau cemas, agar ia merasa terlindungi. Bila anak yakin bahwa ada satu atau lebih orang dewasa yang menjadi figur kelekatannya, yang akan datang menolongnya ketika ia ketakutan atau mengalami kesulitan, maka hal tersebut akan mempercepat proses anak untuk kembali berfungsi normal.

Namun perlu disadari bahwa tingkat resiko anak untuk mengalami trauma tidaklah sama. Umumnya anak yang pernah mengalami hal-hal berikut lebih rentan terhadap trauma :

Proses yang sulit saat dilahirkan

Perpisahan yang panjang atau sering dengan sosok ibu atau pengasuh utamanya

Penyakit yang menimbulkan rasa sakit yang besar

Sering berpindah rumah atau sekolah

Pola asuh yang tidak konsisten

Tentunya, selain hal-hal di atas, usia dan jenis kepribadian anak umumnya juga akan mempengaruhi respon anak terhadap peristiwa yang mengejutkan seperti serangan terorisme yang lalu. Ada anak yang mungkin tidak trauma, namun menjadi dicekam ketakutan yang besar bila mengunjungi tempat umum, atau bahkan untuk sekedar keluar dari rumah. Dalam kasus demikian, akan menolong bila anak dapat difasilitasi untuk berbicara tentang ketakutan yang dirasakannya sehingga perasaan tersebut dapat diproses. Selain itu, orangtua juga dapat secara periodik mengingatkan anak akan peristiwa-peristiwa dimana ia berada di rumah rumah setelah kejadian tersebut dan tidak mengalami kejadian yang demikian. Hal itu akan menolong anak untuk menyadari bahwa ternyata hidupnya setelah peristiwa tersebut terjadi masih cukup aman. Bila orangtua merasa kurang mampu untuk menolong anak yang dicekam ketakutan ataupun trauma, tidak ada salahnya untuk meminta pertolongan psikolog atau konselor professional. 

Selain hal-hal tersebut di atas, ada beberapa hal umum yang dapat menjadi panduan orangtua untuk menyikapi kejadian seperti serangan terorisme lalu, misalnya:

Mengontrol informasi visual yang diterima anak terkait peristiwa tersebut, agar anak tidak terekspos pada visualisasi yang menakutkan baik di televisi, media online maupun media cetak. Bila hal tersebut tidak terelakkan, ada baiknya orangtua secara periodik menanyakan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak terkait itu. 

Orangtua juga perlu mewaspadai kemungkinan anak menerima informasi yang terdistorsi dari teman-temannya. Untuk itu, akan baik bila orangtua dapat mendorong anak untuk mengungkapkan apa saja yang didengar oleh anak terkait peristiwa tersebut sehingga orangtua dapat menolong anak untuk mengetahui mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar. Selain itu, anak juga mungkin akan mendengar melalui media berbagai pembahasan terkait peristiwa tersebut. Akan menolong, bila orangtua dapat membantu anak memahami berbagai pernyataan yang didengarnya terkait terorisme, dan apa yang dapat dipelajari bersama dari berbagai pernyataan tersebut. 

Peristiwa dimana seseorang meledakkan dirinya sendiri untuk membunuh atau melukai orang lain, kemungkinan besar bukanlah hal yang pernah didengar oleh anak, dan bukanlah sesuatu yang dipahami olehnya. Oleh karena itu, bila orangtua menilai kemampuan berpikir anak sudah cukup untuk diajak berdiskusi, tidak ada salahnya orangtua membicarakan hal tersebut dengan sang anak. Isu yang perlu dipahami anak adalah bahwa sekuat apapun keyakinan seseorang akan sesuatu, hal itu tidak memberinya hak untuk mencapai tujuannya dengan cara melukai orang lain. Dan bahwa semua kepercayaan dan keyakinan agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia, tidak satu pun yang membenarkan hal tersebut. (ES)

Foto: suarapembaruan.com