Sehat di Masa Kehamilan

Tips & Tricks - 05 Jul 2018

Masa kehamilan merupakan masa yang spesial, dimana dalam tubuh sang ibu, sebuah kehidupan baru mulai berdenyut dengan perlahan tapi pasti.

 

Masa yang spesial ini, tidak jarang menjadi awal baru bagi orangtua. Mereka yang semula merokok mendapat dorongan lebih untuk berhenti merokok atau mereka yang gaya hidupnya semula boros, menjadi berpikir lebih panjang sebelum membeli sesuatu. Namun di antara semua perubahan positif yang mungkin didorong oleh kehamilan, terdapat dua perubahan yang sangat penting untuk terjadi agar ibu dan janin tetap sehat, yaitu perubahan pola hidup menjadi lebih aktif secara fisik dan perubahan pola makan ke arah yang lebih sehat.

 

Pola Hidup Aktif

Penelitian telah membuktikan bahwa pola hidup yang aktif memberikan banyak sekali manfaat bagi kesehatan ibu dan janin, dan menjadi modal yang besar bagi orangtua untuk mengajarkan pola hidup aktif kepada anak nantinya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi orangtua yang belum memiliki pola hidup aktif, untuk mulai membangunnya sejak masa kehamilan. Misalnya, dengan memilih menggunakan tangga dibandingkan lift atau tangga jalan ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Selain itu, juga mulai membiasakan melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, menari, berenang, yoga ataupun low-impact aerobic selama minimal 30 menit tiap harinya.

 

Olahraga ringan yang mulai dilakukan di awal masa kehamilan dapat membangun otot, tulang dan persendian menjadi lebih kuat, memudahkan proses melahirkan serta mengurangi resiko depresi setelah melahirkan (baby blues). Selain itu, penelitian telah membuktikan bahwa berolahraga ringan sejak masa awal kehamilan dapat mengurangi resiko pre-eklampsia yang merupakan suatu bentuk komplikasi kehamilan dimana tekanan darah ibu meningkat dan aliran darah ke janin berkurang. Dalam banyak kasus pre-eklampsia, jalan keluar yang paling efektif adalah mengeluarkan sang janin, sehingga tidak jarang kondisi tersebut mengakibatkan kelahiran prematur. Oleh karena itu, berolahraga ringan secara rutin sangat penting untuk dilakukan di masa kehamilan, bahkan sebelum kehamilan. Penelitian juga telah membuktikan bahwa berolahraga ringan secara rutin sejak sebelum masa kehamilan, mengurangi resiko pre-eklampsia pada ibu hamil dengan lebih lagi.

 

Berolahraga ringan setiap hari bagi beberapa orangtua mungkin terasa sulit untuk dilakukan di tengah kehidupan modern yang sibuk. Namun bila dipikirkan lebih jauh, salah satu resiko dari tidak dibangunnya kebiasaan berolahraga ringan secara rutin adalah kualitas kesehatan yang lebih rendah pada ibu dan bayi, sehingga memerlukan lebih banyak kunjungan ke dokter. Dengan demikian, tentu akan lebih menyenangkan bila waktu tersebut dipakai untuk melakukan olahraga ringan yang disukai, dibandingkan untuk berkunjung ke dokter.

 

Namun perlu diperhatikan agar selama masa kehamilan tidak melakukan terlalu banyak olahraga ringan atau bentuk olahraga ringan yang tidak sesuai. Ibu hamil perlu peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh, seperti pendarahan, sakit kepala/pusing, kram, kontraksi, rasa nyeri pada bagian tubuh, dan lain sebagainya. Bila salah satu dari gejala tersebut terjadi, olahraga ringan perlu dihentikan segera dan memeriksakan diri ke dokter bila kondisi tersebut tidak hilang selama beberapa waktu.

 

Pola Makan Sehat

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa segala hal yang diasup ibu hamil juga akan diasup janinnya. Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ibu pada masa kehamilan, dan bahkan sebelum masa kehamilan, merupakan bahan dasar utama yang digunakan oleh janin untuk berkembang. Oleh sebab itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk menjaga asupannya. Sesungguhnya, masa kehamilan dapat menjadi momentum yang baik bagi pasangan untuk mulai membangun pola makan yang mendukung kesehatan, karena hal tersebut akan dapat mempengaruhi pola makan anak nantinya.

 

Hal tersebut telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Dr. Julie Mennela dimana ia membagi para ibu hamil yang menjadi partisipan penelitiannya menjadi dua kelompok. Satu kelompok wanita hamil diminta meminum jus wortel sebanyak empat kali seminggu selama tiga minggu berturut-turut, dan kelompok ibu hamil lainnya hanya meminum air saja. Beberapa bulan setelah para ibu tersebut melahirkan dan setelah bayi mereka cukup besar untuk belajar mengonsumsi makanan, bayi-bayi tersebut diberikan sereal yang dicampur dengan jus wortel. Ternyata para bayi tersebut terbagi menjadi dua kelompok juga, dimana bayi yang dikandung oleh ibu yang meminum jus wortel di masa kehamilan dengan mudah menerima makanan tersebut dan bahkan tidak sedikit yang menyukainya. Sedangkan bayi yang dikandung oleh ibu yang tidak meminum jus wortel menunjukkan ketidaksukaan terhadap makanan tersebut dengan intensitas yang berbeda-beda.

 

Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa apa yang diasup oleh ibu hamil akan mempengaruhi preferensi menu anak nantinya. Oleh karena itu, bila orangtua ingin agar anaknya nanti menyukai sayur atau makanan sehat lainnya, maka ibu perlu mengkonsumsi makanan-makanan tersebut di masa kehamilan. Sebaliknya, di masa kehamilan, ibu juga perlu menghindari makanan yang ia tidak ingin anaknya nanti konsumsi; seperti makanan cepat saji, misalnya.

 

Selain itu, di masa kehamilan, ibu perlu waspada terhadap makanan yang mungkin mengandung pestisida, karena zat kimia tersebut dapat dengan mudah masuk ke dalam janin melalui plasenta dan dapat mengganggu kesehatan ibu dan bayi. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan bagi para ibu hamil untuk mengonsumsi bahan makanan organik, yaitu bahan makanan yang dikembangkan tanpa bahan-bahan kimia. Asupan bahan makanan organik yang dianjurkan tidak hanya dalam bentuk buah dan sayuran, tetapi terlebih lagi dalam bentuk daging dan hasil olahan susu. Hal tersebut disebabkan semakin tinggi posisi bahan makanan dalam rantai makanan (misalnya, posisi hewan herbivora lebih tinggi dari tumbuhan dalam rantai makanan), maka akumulasi zat kimianya juga semakin banyak. (ES)

 

 foto: healthygallatin.org